Memilih Influencer

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memilih Influencer

Pengguna social media di Indonesia mencapai 150 juta, loh. Berarti ada 56% dari jumlah total populasi aktif di media sosial. Sebut saja seperti Instagram, Facebook, Twitter, Line, Youtube, WhatsApp dan social media lainnya. Kehadiran platform social media ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk memasarkan produknya. Kalau dulu perusahaan mempromosikan secara konvensional, sekarang banyak perusahaan yang memanfaat media sosial dalam kegiatan marketingnya.

Nah, dari berbagai macam bentuk advertising, lembaga Nielsen menilai iklan yang paling kredibel itu datang dari seseorang yang dikenal dan dipercaya oleh para pemirsa. Buktinya, 83% responden global Nielsen mengungkapkan bahwa mereka sangat mempercayai rekomendasi yang diberikan oleh keluarga atau pun teman. Tapi, rasa percaya masyarakat sebenarnya tidak terpaku hanya dari inner-circle mereka saja, faktanya sebanyak 66% responden mengatakan percaya pada opini konsumen lain yang disiarkan secara online.

Maka dari itu, salah satu strategi yang dinilai ampuh untuk memasarkan produk atau jasa dalam social media adalah menggunakan influencer.  Sebutan “Influencer marketing” kini menjadi terminologi yang sudah umum di dunia bisnis. Lalu, apa itu influencer?

Apa Itu Influencer?

Influencer merupakan orang yang memiliki followers atau audience yang cukup banyak di social media. Sehingga mereka dianggap memiliki pengaruh yang kuat terhadap followers mereka. Mereka mampu menggerakkan massa atau meyakinkan followers mereka untuk melakukan sesuatu. Contohnya seperti artis film dan televisi, selebgram, youtuber, buzzer, dan blogger. Para influencer ini memiliki kategori level sendiri dan dipilih berdasarkan popularitas, keahlian, atau reputasinya.

Dengan “people power” yang mereka miliki, perusahaan seringkali menugaskan mereka untuk merekomendasikan produk kepada audience-nya. Teknik Word of Mouth ini cukup ampuh dilakukan. Oleh karena itu, seorang pemasar perlu menentukan Key Opinion Leader (KOL) yang di gayangi para influencer sebagai upaya membentuk word of mouth di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan kepercayaan.

Pertanyaan intinya, bagaimana cara memilih influencer yang tepat?

Tips Memilih Influencer yang Tepat

  1. Followers
    Pertama Anda perlu melihat  followers dari KOL potensial yang ingin diajak bekerja sama. Dengan melihat jumlah followers, Anda bisa mengestimasi seberapa banyak audiens yang akan melihat pesan tersebut. Semakin banyaknya followers, semakin tinggi pula pengaruh mereka terhadap audience yang akan melihat produk Anda.
    Selain banyaknya followers, Anda juga harus memperhatikan keaslian followernya. Jangan sampai hanya akun fiktif yang berkumpul di sana. Soalnya, akhir-akhir ini banyak orang yang menggunakan jasa “jual-beli” followers. Kalau  followers dari influencer yang Anda pilih fiktif tentu saja tidak akan berpengaruh terhadap strategi marketing Anda.
  2. Engagement
    Untuk mengecek keaslian followers mereka, lihat saja interaksinya di setiap postingannya, apakah mungkin hanya mendapatkan likes 100 dari 1 juta followers? Tapi sekarang, kita tidak bisa lagi mengukurnya melalui kolom komentar. Sebab, bisa saja si influencer menonaktifkan kolom komentar atau membatasinya.
    Sebenarnya, ada sebab lain mengapa mereka menonaktifkan kolom komentar. Bisa jadi karena terlalu banyak hujatan dari netizen sehingga mereka memiliki reputasi yang buruk. Atau memang hanya terganggu dengan notifikasi Instagram. Namun, ada cara lain untuk mengukur mereka, Anda bisa meminta mereka menunjukkan impresi yang biasanya mereka dapatkan. Atau melihat interaksi di Instagram live dan story-nya.
    Penting untuk Anda memperhatikan engagement audience pada setiap postingan influencer pilihan Anda. Karena bagaimana pun, influencer-lah yang akan menjadi lidah penyambung brand Anda.
  3. Relevansi Brand
    Seorang pemasar perlu untuk memilih dengan tepat Influencer yang memiliki kesamaan bidang dan minat yang sesuai dengan perusahaan Anda. Lihat saja isi konten yang sering mereka upload, setidaknya 7 hari terakhir. Sebagai contoh misalnya, perusahaan Anda bergerak dibidang fashion hijab. Menjelang bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Mei 2019, produk hijab dijamin akan naik daun. Maka Anda perlu mencari influencer  yang sering mengenakan hijab dan sering mengenakan pakaian muslimah. Seperti Ria Ricis, Zaskia Adya Mecca, dan Zaskia Sungkar. Jangan memilih influencer yang sudah jelas sering mengenakan pakaian terbuka dan minim, atau malah memilih influencer bidang gaming. Tidak akan ada hubungannya dan secara karakter audience mereka juga berbeda dengan target pasar Anda.
  4. Reputasi Influencer
    Key Opinion Leader Anda merepresentasikan brand perusahaan Anda. Sehingga, reputasi influencer penting untuk menjaga citra brand. Tentu saja hindari influencer yang memiliki citra buruk. Anda juga perlu mengetahui brand apa saja yang sudah bekerja sama dengan influencer tersebut. Jangan sampai ada kompetitor brand yang pernah bekerja sama dengannya. Untuk menghindari ini, Anda bisa mencoba bekerja sama dengan micro-influencer untuk lebih menarik minat niche market.
  5. Cek Riwayat Feed Influencer
    Anda juga harus jeli untuk mengecek riwayat feed influencer untuk melihat mereka sudah bekerja sama dengan siapa saja. Beberapa kasus saat bekerja sama dengan influencer/KOL yang kerap terjadi adalah karena di feed-feed terdahulu, influencer ini pernah bekerja sama dengan kompetitor dan beberapa bahkan pernah dikenal sebagai brand ambassador suatu brand.

Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi karakter tiap influencer dan followers-nya. Ada yang tergolong selebritas dan bagus untuk membangun awareness. Tapi, ada pula yang tergolong ahli atau opinion leader yang lebih tepat untuk memperkuat kredibilitas brand, bahkan menarik perhatian media massa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *